Tiga tahun tidak beli baju lebaran

Semenjak mengusahakan hidup minimalis, aku sudah tidak beli baju baru sejak hampir 3 tahun lalu. 

beli baju terakhir, documented hahahaha


Dan tahun ini adalah tahun ke-tiga bagiku untuk tidak beli baju lebaran

Mungkin terbilang pencapaian kecil dibanding para influencer lingkungan yang bisa sampai 7 tahun ya, tapi ini adalah progress yang sangat baik dan menyenangkan. Happy banget, nggak pressure sama sekali untuk mencari baju baru. Tidak seperti sebelumnya, yang waktu dihabiskan untuk scroll-scroll e-commerce, jalan-jalan di mall, seakan-akan harus dapet. Minimal satu, deh. Gak terlalu suka sih, tapi daripada nggak ada baju baru?

baju lebaran terakhir ketika Rayyan lahir. Dulu demi dapet baju lebaran, ibu ini rela hamil-hamil gede keliling toko baju hiks


Beberapa hal lain yang aku sudah stop beli, bahkan ketika aku berpikir untuk membelinya, tidak aku lakukan. Karena merasa, mungkin enggak se-butuh itu. Ini bisa diganti dengan yang sudah ada. Pokoknya, 1001 mantra untuk akhirnya membuat aku enggak-jadi-beli sesuatu.

TAPI YA, TAPI, aku jadi merasa banyak keajaiban yang datang ketika aku menahan membeli sesuatu. Pada akhirnya.... aku dapet barang itu! 

Misal, aku sudah berbulan-bulan lalu mau beli mukena, karena mukena aku yang sekarang sudah sobek digigit Rayyan. Sudah sobek, lho. Waktu yang tepat bukan, untuk membeli baru?

Tapi, aku tahan. Aku jahit sobekan itu. Aku pakai lagi. Ehh, ternyata, lebaran kali ini aku dapet 2 mukena baru dari hampers pemberian orang lain. Yeay, seneng banget!!

Ini hanyalah satu contoh, aslinya banyak. Misalnya baju, aku sudah lama ya tidak beli baju. Eh, tiba-tiba aja, ibu mertua manggil dan ngasih baju lama beliau yang masih bagus banget tapi udah engga dipake. Yeay, seneng banget!! #2 Tetep ngerasain sense punya baju baru, hehehe.

Cerita serupa juga pernah terjadi pada tas, sepatu, bahkan makanan yang aku makan untuk berbuka puasa hari ini. Beberapa minggu lalu, aku kepikiran buat makan mie kocok Bandung. Tahan, agar tidak keluarin effort nyari-nyari. Ternyata, menu buka bersama hari ini ada mie kocok Bandung. Yeay, seneng banget!! #3

Intinya, hidup minimalis ini tidak hanya menyadarkan aku tentang berhemat--jauhh banget dari motivasi berhemat malah. Hemat, itu hanya bonus. Mungkin agar tidak panjang lebar, aku jadikan poin-poin saja kenapa bijak berkonsumsi semenyenangkan itu :

1. Waktu tidak terbuang untuk berbelanja. Bisa digunakan ke aktifitas lain.

2. Meningkatkan rasa syukur dan cukup. Ketika diberikan sesuatu oleh orang, aku sudah tidak punya preferensi selera lagi HAHAHA. Semuanya aku suka, membuatku happy dan sukarela untuk memakainya :) Pun jika tidak ada yang memberi, tidak pernah ada masalah juga karena aku sadar yang aku punya sudah cukup.

3.  Tidak pusing soal penyimpanan dan perawatan barang karena cuma punya sedikit.

4. Percaya diri karena sudah berbuat baik untuk lingkungan <3 karena limbah fashion itu parah banget.

5. Belanja bukan lagi stress relief aku. Alhamdulillah kalo lagi stress gaperlu keluarin duit biar happy lagi

6. Uangnya bisa digunakan untuk hal lain, terutama bisa lebih banyak plot untuk berbagi ke sesama.

Last but not least, aku berterimakasih banget kepada Allah yang sudah membuka hatiku untuk bijak berkonsumsi. Ini semua tidak akan bisa dirasakan kalau tidak dipermudah olehNya. Transisinya pasti sulit. Tapi, jika dibantu Allah, jadi mudah banget.

Begitulah. Perjalanan minimalisme ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak clutter, khilaf dan lainnya. Mari kita doakan semoga istiqomah.

Apa kalian tertarik untuk memulai hidup minimalis?

Comments

Popular posts from this blog

music is in you, isn't it?

Ibu yang Tidak Ideal

Interpretasi puisi : Aku Ingin, karya Sapardi Djoko Damono